GKI CIANJUR

Jl. HOS. Cokroaminoto No. 55 Telp. (0263) 262196 Cianjur

PEDULI ANAK MENTAWAI

Apakah semua pekerjaan mulia?

23.16 Posted In 0 Comments »
Dalam pertemuan Pemahaman alkitab di awal bulan Juni ini, bahan yang dibahas dalam pertemuan PA di Cianjur maupun di Ciranjang adalah Lukas 19:1-10. Ya tentu anda tahu kiash itu adalah kisah tentang Zakheus.

Di kota Yerikho, tinggal seorang kepala pemungut pajak, Zakheus, yang sangat dibenci oleh orang banyak. Dia bekerja pada pemerintah Roma, yang pada waktu itu menjajah bangsa Yahudi. Semua orang tidak mau berteman dengannya, walaupun ia sangat kaya. Orang-orang memandang dia sebagai seorang pendosa yang harus dijauhi.

Sebelum lewat di kota Yerikho, Yesus menyembuhkan orang buta di tengah jalan. Maka orang-orang banyak mengerumuni Dia, demikian juga Zakheus. Namun karena badannya pendek, maka ia memanjat pohon ara untuk dapat melihat Yesus dengan jelas. Yesus mengetahui maksud hati Zakheus, maka ketika Ia lewat, Dia memandang Zakheus dengan penuh kasih. Dia memanggil nama “Zakheus”, dan bahkan mau tinggal dan makan bersama dengannya.
Kasih inilah yang merubah kehidupan Zakheus, dan ia mengalami pertobatan yang benar. Pertobatan/Metanoia adalah perubahan sikap 180 derajat. Berubah dari sikap dosa dan berbalik kepada Kristus, serta menyadari jati diri kita yang sebenarnya, sebagai anak-anak Allah. Itu juga yang dialami oleh Zakheus, setelah mengalami kasih dari Tuhan, mengalami pertobatan, dia mau memperbaiki hidup, dan membagi kasih kepada orang lain, termasuk orang-orang yang mungkin pernah dia rugikan.
Nah dalam kesempatan kolom bina kali ini dan beberapa kolom bina ke depan saya akan berbagi tentang beberapa hal penting seputar pekerjaan yang banyak orang hidupi. Dalam pembahasan PA tersebut muncul sebuah ide untuk memberikan pemahaman adakah pekerjaan yang tidak mulia? Semoga dalam kesempatankolom bina kita bisa mendapatkan pengetahuan yang akan menempatkan kita pada pemahaman yang lebih tepat terhadap semua jenis pekerjaan.

Hamba/Pelayan yang Profesional
Di dalam Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, pengertian pelayan atau melayani itu sangat kuat artinya. Khususnya dalam Perjanjian Baru yang sangat kental dengan budaya Helenis atau Yunani, pengertian pelayan mengandung unsur penghinaan atau dapat juga berarti “merendahkan diri”!

Melayani Tuhan adalah meneruskan kabar baik dari Tuhan bagi sesama. Ketika Kristus memanggil seseorang untuk menjadi pelayan-Nya, maka Ia pasti memperlengkapinya dengan karunia dan kuasa yang berasal dari-Nya (bandingkan Kis. 1:8 dengan Mat. 28:18-20).

Mengingat arti pelayanan yang sesungguhnya adalah membawa kabar baik (Injil) secara terus-menerus melalui hidup seorang pelayan, maka kehidupan seorang pelayan menjadi sangat penting. Hal ini bukan hanya menyangkut perkataan atau aktivitasnya saja, tetapi kehidupan (persekutuan) pribadinya dengan Tuhan, karena melalui persekutuan tersebut ia merasakan pengalaman pribadi dengan Tuhan sehingga perjalanan imannya bukan teori tanpa isi.

Karena itu untuk melayani Tuhan, kita tak harus mempunyai gelar STh, MTh, dan sebagainya, tetapi kita perlu menjadi hamba-Nya, dalam arti menjadi orang-orang yang taat menjalankan perintah-Nya melalui profesi atau keahlian kita masing-masing. Yang penting dan harus menjadi dasar pelayanan kita ialah bahwa apa pun juga yang kita kerjakan, harus berangkat dari paradigma untuk memuliakan Tuhan (Kol. 3:23).

Profesi Sebagai Pelayanan
Apa buktinya kalau manusia menghormati Allah? Buktinya ialah bahwa manusia bekerja! Bekerja yang dimaksud di sini tentulah bekerja sebagai orang percaya, yaitu bekerja dalam arti profesi dan dalam arti melayani.

Kedua hal tersebut harus sinergi dan tak dapat dipisahkan! Pelayanan dan profesi harus menjadi bagian dari setiap orang yang mengaku menjadi pengikut Kristus! Meminjam istilah alm. Pdt. Eka Dharmaputra, “Kalau Saudara seorang profesional, kerjakanlah profesi Saudara sebagai pelayanan, dan jika Saudara sebagai pelayan, kerjakanlah pelayanan Saudara secara profesional.” Artinya bahwa sebagai orang percaya, di dalam kita berprofesi, kita harus menyaksikan siapa kita dan siapa Tuhan! Dan sebagai orang percaya yang sudah diselamatkan, kita juga harus melakukan pelayanan dengan sungguh-sungguh, bukan hanya sebagai kegiatan kerohanian semata! Salomo menulis di dalam Pengkhotbah 9:10, “Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu dengan sekuat tenaga.” Ada pesan di sini, bahwa bekerja itu penting dan merupakan keharusan bagi semua orang.

Pada zaman Musa, Tuhan memberi talenta kepada orang-orang tertentu seperti Bezaleel bin Uri bin Hur dan Aholiab bin Ahisamakh sehingga mereka cakap mengerjakan segala macam pekerjaan pertukangan untuk Bait Suci (Keluaran 35:30-35). Dikatakan mereka dipenuhi dengan Roh Allah, dengan keahlian, pengertian dan pengetahuan, dalam segala macam pekerjaan untuk membuat berbagai rancangan supaya dikerjakan dari emas, perak dan tembaga; untuk mengasah batu permata supaya ditatah; untuk mengukir kayu dan untuk bekerja dalam segala macam pekerjaan yang dirancang itu. Ia telah memenuhi mereka dengan keahlian, untuk membuat segala macam pekerjaanseorang tukang, pekerjaan seorang ahli, pekerjaan seorang yang membuat tenunan yang berwarna-warna dari kain ungu tua, kain ungu muda, kain kirmizi dan lenan halus, dan pekerjaan seorang tukang tenun, yakni sebagai pelaksana segala macam pekerjaan dan perancang segala sesuatu.
Jadi siapa bilang melayani Tuhan hanya bisa dengan jadi full timer di gereja yang kerjaannya khotbah atau nyanyi di mimbar. Menjadi profesional di berbagai bidang itu juga pelayanan. 

Sebagai orang-orang percaya kita harus tahu bahwa pekerjaan atau profesi itu merupakan talenta dari Allah yang harus dikembangkan, bukan untuk disimpan atau dibuang, karena pada saat talenta itu dipergunakan, talenta tersebut akan bertambah, tetapi kalau didiamkan, maka talenta itu pun akan hilang/diambil (Mat. 25:14-30).

Jadi Saudara-Saudara, bekerja keras itu adalah ibadah, karena itu orang yang beriman harus bekerja sebagai bentuk ibadahnya kepada Allah. Ingatlah bahwa Tuhan Yesus pun bekerja sampai hari ini (Yoh. 5:17).

Saya kurang setuju kalau ada orang percaya yang meninggalkan profesinya karena alasan melayani Tuhan. Anda bisa menjadi dokter karena anugerah Tuhan, supaya dengan profesinya sebagai dokter, anda bisa bekerja sebagai bentuk pelayanannya. Karena itu, seorang dokter yang tak mau menjalankan profesinya dan hanya mengolesi pasiennya dengan minyak bila datang berobat kepadanya, atau sebaliknya, kalau ada orang yang sakit tetapi tidak mau berobat ke dokter dan lebih memilih untuk pergi ke pendeta, itu sangat disayangkan! Jadi janganlah kita mengatakan, “Sekarang saya sudah tinggalkan profesi atau keahlian saya dan secara penuh waktu melayani Tuhan,” atau “Saya hanya percaya sepenuhnya pada doa saja bahwa saya akan sembuh.” Tuhan memakai banyak profesi sebagai kepanjangan tangannya.

Siapapun kita, apapun profesi kita, kita harus sepenuhnya melayani Tuhan dengan profesi kita dan sepenuhnya percaya pada kuasa Tuhan. Kalau anda seorang tukang kayu, anda akan mengerjakan profesi anda 100% sebagai tukang kayu, tetapi juga melayani Tuhan 100% sebagai hamba Tuhan!

Jadi kalau ada pertanyaan, “Saya sedang produktif, karier saya sedang menanjak, kapan saya harus melayani Tuhan?” maka jawabannya ialah, “Sekarang!” Justru pada saat kita berada di puncak karier, kita harus melayani, jangan tunggu sampai pensiun! Apa bisa? Tentu! Karena Tuhan akan memperlengkapi Saudara (Pet. 5:10).

Nah lalu apakah berarti semua pekerjaan adalah mulia? Adakah pekerjaan yang kurang mulia? Bagaimana pekerjaan seperti yang dikerjakan Zakheus?


Tunggu jawabannya di kolom bina berikut.

Membangun kedisiplinan diri

23.01 0 Comments »
Disiplin adalah salah satu kunci kesuksesan. Hal ini bisa dibuktikan dari contoh nyata sehari-hari. Kalau kita disiplin bangun setiap hari, masuk kerja, serta pulang kerja tepat waktu, maka kita bisa digolongkan sebagai orang yang rajin. Namun kalau ternyata jam bangun tidur saja kita tidak menentu, kadang jam enam, kadang jam tujuh atau jam delapan pagi, ada kemungkinan rejeki kita akan tersendat. Bayangkan saja, mana ada pimpinan yang suka melihat pegawainya bersikap demikian. Bukannya disukai, pegawai semacam ini dapat dipecat bila tidak segera berubah. Disiplin juga membuat hidup kita teratur dan terhindar dari berbagai masalah sepele, tapi fatal, misalnya ketinggalan kereta atau terlambat memenuhi janji bertemu pelanggan.

Dalam Alkitab kita dapat melihat bagaimana dengan kedisiplinan, Daniel menjadi pribadi yang disukai Tuhan dan para raja yang mempekerjakannya. Sebagai pekerja, Daniel memang terkenal dengan kedisiplinannya, termasuk dalam hal beribadah kepada Allahnya. Tiga kali sehari ia bersekutu secara pribadi dengan Allah (Dan 6:11). Gara-gara itu pula banyak orang yang merasa iri dan berusaha menjatuhkannya, tetapi semua gagal karena tidak adanya bukti. Akhirnya mereka menjebak raja membuat peraturan yang memojokkan Daniel. Namun hal itu tidak membuat Daniel meninggalkan kedisiplinannya. Dengan komitmen sekuat itu, tak heran jika akhirnya tangan Tuhan sendiri yang menyatakan pertolongan dan pembelaan-Nya, bahkan saat Daniel ada di gua singa sekalipun. Komitmen kepada Allah mendatangkan pembelaan ketika diperlukan.

Memang demikianlah adanya, bahwa menjadi pribadi yang disiplin bukanlah sesuatu yang mudah. Selalu saja ada hambatan yang menghalangi, baik dari diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan. Menggubah kebiasaan buruk seperti bangun tidak teratur, berlambat-lambat, menunda-nunda pekerjaan, dan lain sebagainya memang bukan sesuatu yang mudah. Akan tetapi jika kita mau berusaha, hal itu bukanlah sesuatu yang mustahil. Mari tanamkan dan jadikanlah kedisplinan itu sebagai karakter hidup kita. Maka, kita akan dapat melihat bagaimana berkat-berkat Tuhan akan melimpah dalam kehidupan kita.

Anda Gak Mudik?

08.35 Posted In 0 Comments »


 Judul di atas mungkin belakangan hari ini sering kita dengar. Ya hari-hari belakangan ini sampai beberapa hari kedepan negeri ini sedang menjalankan libur besar bersama. Sebagai negeri dengan mayoritas muslim terbesar di dunia tidak bisa dipungkiri bahwa Idul Fitri di negeri kita ini merupakan masa liburan terbesar. Liburan panjang pada masa ini merupakan kesempatan berkumpul bersama keluarga. Tidak pandang apapun agamanya, merayakan Idul Fitri atau tidak, mudik menjadi sebuah tradisi yang menjamah hampir seluruh rakyat negeri ini.
Dimulai sejak pertengahan tahun delapan puluhan, nampaknya istilah dan kegiatan mudik lebaran ini mulai di-ekspose begitu besar dan tertanam di benak masyarakat Indonesia. Tahun sebelumnya pun sebenarnya kebiasaan mudik lebaran ini sudah ada, namun tidak seheboh seperti sekarang ini, mungkin saat itu urbanisasi dan penduduk negeri ini masih relatif agak rendah.
Dari mana kata "mudik" bermula. Bagaimana asal-usulnya? Sesekali, menarik juga memahami sebuah kata yang akhirnya menjadi budaya di negeri ini. Boleh jadi, satu-satunya tradisi unik yang dilakukan hampir seluruh orang dalam satu negara, sekaligus sebagai fenomena mengagumkan di mata dunia.
Setiap ahli punya opini sendiri tentang makna kata "mudik". Kita akan lihat bersama beberapa pandangan tersebut. Mudik dari Betawi? Dalam pergaulan masyarakat Betawi terdapat kata "mudik" yang berlawanan dengan kata "milir". Bila mudik berarti pulang, maka milir berarti pergi. Kata "milir" merupakan turunan dari "belilir" yang berarti: pergi ke Utara. Dulu, tempat usaha banyak berada di wilayah Utara - lihat sejarah Batavia dan Sunda Kelapa. Karena itulah kata "mudik" bermakna: Selatan. Sehubungan dengan kata ini, pendapat lain mengungkapkan bahwa kaum urban di Sunda Kelapa sudah ada sejak abad pertengahan. Orang-orang dari luar Jawa mencari nafkah ke tempat ini, menetap dan pulang kembali ke kampungnya saat hari raya Idul Fitri tiba. Karena itulah, kata "mudik" dalam istilah Betawi juga mengartikan "menuju udik" (pulang kampung). Istilah mudik sendiri tercatat di Kamus Umum Bahasa Indonesia WJS Poewadarminta (1976), di dalam kamus tersebut mudik berarti "Pulang ke udik atau pulang ke kampung halaman bersamaan dengan datangnya hari Lebaran".
Sementara menurut Umar Kayam (2002), mudik awal mulanya merupakan tradisi primordial masyarakat petani jawa. Keberadaannya jauh sebelum Kerajaan Majapahit. Awalnya kegiatan ini digunakan untuk membersihkan pekuburan atau makam leluhur, dengan disertai doa bersama kepada dewa-dewa di Khayangan. Tradisi ini bertujuan agar para perantau diberi keselamatan dalam mencari rezeki dan keluarga yang ditinggalkan tidak diselimuti masalah. Namun, masuknya pengaruh Islam ke Tanah Jawa membuat tradisi ini lama-kelamaan terkikis, karena dianggap perbuatan syirik (mensekutukan Tuhan). Meski begitu, peluang kembali ke kampung halaman setahun sekali ini muncul lewat momen Idul Fitri. Makanya, tidak heran kebanyakan masyarakat Jawa yang mudik selalu menyempatkan diri untuk ziarah dan membersihkan kuburan.
Dalam kehidupan bangsa Israel, umat Israel juga memiliki tradisi mudik. Tetapi dalam tradisi Israel mudik yang dimaksud adalah kembalinya umat Israel dari berbagai tempat menuju Yerusalem untuk beribadah dalam hari-hari raya besar bangsa Yahudi. Mazmur 121 menjadi salah satu lagu yang dinyanyikan dalam tradisi kembalinya mereka ke Yerusalem.
Mazmur 121 berbentuk Nyanyian Ziarah. Bahasa Ibrani yg dipakai untuk kata ziarah dalam terjemahan Alkitab adalah ”hammalot”. Sudah tentu sifat ziarah dalam tradisi keagamaan Israel berbeda dari kata ziarah dalam budaya Indonesia. Dalam budaya Indonesia, ”ziarah” dihubungkan dengan peristiwa kematian dan dalam suasana dukacita, atau tempat-tempat keramat. Sementara ziarah dalam tradisi keagamaan di Israel memiliki makna perjalanan umat Israel menuju Bait Allah di Zion, Yerusalem.
Mazmur ini sering dinyanyikan oleh para peziarah Yahudi ketika melakukan perjalanan jauh ke kota suci Yeruzalem. Perjalanan ziarah ke Yeruzalem adalah suatu ambisi dan bahkan bisa dikatakan suatu kewajiban bagi orang Yahudi yang masih tetap menjaga iman mereka yang tidak kembali ke Kanaan sesudah pembuangan ke Babel.

Martabat yang dipulihkan
Di dalam ajaran Islam, tradisi mudik tidak dikenal. Usai melaksanakan puasa selama sebulan penuh, umat Islam hanya diperintahkan mengeluarkan zakat fitrah dan melaksanakan salat Ied di tanah lapang, serta melarang berpuasa di hari pertama dan kedua Idul Fitri. Namun, ada juga yang menafsirkan arti dari Idul Fitri yaitu kembali ke fitrah sebagai kembali kepada asal muasal. Sehingga para perantau di kota-kota besar berondong-bondong kembali ke kampung halamannya atau dikenal mudik.
Kembalinya mereka ke tengah-tengah keluarga bukanlah hal yang biasa. Ini bisa memberikan dampak besar bagi keutuhan hidup para perantau. Mungkin selama di tanah rantau mereka bekerja begitu keras. Tak jarang yang bekerja dibawah tekanan sang majikan yang begitu merendahkan martabat mereka. Dengan kembali ke pangkuan keluarga mereka kembali menjadi manusia yang utuh, disegarkan. Bertemu dengan keluarga membuat para perantau “dipulihkan”. Setelah hidup ditengah kerasnya tanah rantau, mereka kembali menjadi manusia utuh ketika bertemu dengan orang tua atau keluarga lainnya.

Jangan menjadi ajang pamer
Mudik memang menjadi tradisi di berbagai tempat. Kembali ke tempat asal nampaknya menjadi sebuah aktifitas yang “wajib” dilakukan oleh setiap orang. Dan aktifitas tersebut nampaknya tidak tergantikan dengan perkembangan teknologi yang ada. Kini, teknologi semakin maju. Sudah ada telepon genggam, internet, hingga teleconference yang memudahkan komunikasi dari jarak jauh. Namun, meskipun biaya komunikasi melalui handphone dan internet sudah terjangkau, masyarakat merasa tradisi mudik tidak lagi bisa tergantikan.
Menurut sosiolog Universitas Gajah Mada Arie Sudjito, ada beberapa hal yang menyebabkan teknologi tidak bisa menggantikan tradisi mudik. Salah satunya, disebabkan teknologi tersebut belum menjadi bagian dari budaya yang mendasar di Indonesia, terutama pada masyarakat pedesaan. Tradisi mudik di Indonesia (Lebaran, Natal & Tahun Baru) juga tak lepas dari keinginan untuk bertemu dan bertatap muka, bersilaturrahmi secara langsung, ketimbang menggunakan media komunikasi telepon atau jaringan maya lainnya, bahkan saling kirim kartu lebaran yang dulu sempat nge-trend dan laku keras. Sehingga para perantau rela berdesak-desakan mengantre tiket, naik kereta hanya demi tiba di kampung halaman sebelum Lebaran. Bayangkan berapa biaya yang dikeluarkan oleh seluruh pemudik. Andai semua bisa dipakai untuk aksi sosial bersama membantu para kaum miskin yang memerlukan.
Setidaknya ada 4 hal yang menjadi tujuan orang untuk melakukan mudik dan sulit digantikan oleh teknologi. Pertama, mencari berkah dengan bersilaturahmi dengan orangtua, kerabat, dan tetangga. Kedua, terapi psikologis. Kebanyakan perantau yang bekerja di kota besar memanfaatkan momen lebaran untuk refreshing dari rutinitas pekerjaan sehari-hari. Sehingga ketika kembali bekerja, kondisi sudah fresh lagi. Ketiga, mengingat asal usul. Banyak perantau yang sudah memiliki keturunan, sehingga dengan mudik bisa mengenalkan mengenai asal-usul mereka. Dan yang terakhir, adalah unjuk diri. Banyak para perantau yang menjadikan mudik sebagai ajang unjuk diri sebagai orang yang telah berhasil mengadu nasib di kota besar.
Belakangan hari tujuan yang terakhir inilah, oleh banyak kalangan, dipandang sangat mendominasi. Telah terjadi pergeseran nilai terhadap trend mudik lebaran di masyarakat. Tradisi mudik lebaran tidak lagi seperti dulu, murni sebagai ajang silaturrahmi, tetapi sudah merambah ke ajang pamer kesuksesan keluarga dan kerabat.
Untuk masyarakat moderen perkotaan, ajang silaturrahmi memiliki trend baru, selain mengadakan syawalan atau halal bihalal keluarga besar atau trah, mereka juga mengadakan acara reuni dengan kawan sekolah atau kuliahnya dulu. Dalam kesempatan acara syawalan keluarga serta acara reuni ini, selain silahturahmi, acara tersebut tidak jarang dipandang sebagai ajang pamer kesuksesan dengan menunjukkan dimana mereka bertugas, kemudian posisi jabatan atau pangkat yang diduduki, bahkan sampai bercerita tentang jumlah rumah dan kendaraan yang mereka miliki. Terjadilah semacam suasana baku saing yang luar biasa, siapa yang paling sukses, semua itu merupakan upaya mengangkat prestise seseorang, jadi tidak sekedar ritual silaturrahmi dan saling maaf memafkan semata.
Kemudian pada sebagian kelompok masyarakat, umumnya yang sering terjadi pada masyarakat pinggiran kota, pamer kesuksesan banyak ditunjukkan dengan banyaknya harta kekayaan yang dimiliki, pulang kampung dengan membawa kendaraan (mobil atau sepeda motor) sendiri, membawa barang / oleh-oleh atau pun sejumlah uang untuk dibagi-bagikan kepada keluarga dan kerabat dekat, untuk publikasi lebih luas, biasanya memberikan sumbangan kepada rumah ibadah (Mesjid atau Gereja) di kampung halamannya, nampaknya terlihat mudik lebaran (atau natal dan tahun baru juga), bukan hanya sekedar forum silaturrahmi semata.
Mungkin pada masa liburan ini kita berencana menghadiri acara-acara halal-bihalal atau reuni dengan teman-teman lama atau kita berencana juga mengambil kesempatan liburan panjang ini untuk mudik, baik yang pergi meninggalkan Cianjur maupun yang datang dari berbagai daerah untuk berkumpul dengan keluarga di Cianjur, kiranya kita bisa memakai kesempatan ini untuk mempererat persekutuan kita dengan tiap anggota keluarga, dengan keluarga-keluarga lain, bahkan dengan seluruh warga di sekitar kita. Tapi ingat jangan lupa untuk terus dapat berbagi kasih dengan banyak saudara kita yang tidak seberuntung kita dengan penuh ketulusan. Bukannya malah kita terjerat pada keinginan membanggakan diri dengan seluruh harta dan kesuksesan yang kita peroleh. Selamat Idul Fitri bagi setiap saudara muslim dan selamat berlibur bagi kita semua.


Agustus Tahun Ini

08.32 Posted In 0 Comments »



Dalam bulan agustus ini dihiasi dengan beragam momen. Agustus biasa identik dengan perayaan kemerdekaan negeri ini. Seperti tahun kemarin, tahun ini kita merayakan HUT RI ke 67 dalam suasana ibadah puasa yag sedang dijalankan oleh umat Islam. Peringatan 67 tahun Kemerdekaan Indonesia tahun ini tergolong istimewa. Pasalnya, jatuh di hari Jumat dan bulan Ramadhan. Kondisi ini sama dengan ketika Soekarno dan Hatta memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, yang juga jatuh di hari Jumat dan bulan Ramadhan.

Sejumlah pemuda yang membawa Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok, Jawa Barat, 16 Agustus 1945, sempat meminta agar proklamasi dibacakan hari itu juga. Namun, seperti ditulis wanita pejuang Lasmidjah Hardi, saat itu Soekarno menjawab, ”...tanggal 17 lebih memberi harapan kepadaku. Angka 17 adalah angka suci. Pertama-tama kita sedang berada dalam bulan suci Ramadhan, waktu kita semua berpuasa, ini berarti saat yang paling suci bagi kita. Tanggal 17 besok hari Jumat, hari Jumat itu Jumat Legi, Jumat yang berbahagia, Jumat suci....”

Kemerdekaan Republik Indonesia sebagai tanda kemenangan atas penjajahan diproklamasikan pada bulan puasa. Waktunya dipilih secara saksama oleh Bung Karno pada tanggal 17 Agustus (1945), bertepatan dengan 17 Ramadhan yang dipercaya oleh umat Islam sebagai hari keramat, awal turunnya Al Quran yang bagi umat Islam dipercaya sebagai Al-Furqon (pembeda antara kebenaran dan kebatilan).

Makin terpuruk
Berbeda dengan gambaran puasa pada awal kemerdekaan, bulan agustus yang seharusnya memberikan semangat kebangkitan. Agustus tahun ini menghadirkan gambaran keterpurukan. Tradisi perolehan medali emas di olimpiade berhenti. Kegagalan ini lebih tercoreng oleh memudarnya nilai sportivitas. Lembaga penegak hukum justru sarang pelanggar hukum; institusi kepolisian yang mestinya memuliakan imperatif hukum justru mengedepankan logika kekuatan—ngotot menangani sendiri kasus korupsi yang menimpa institusinya. Keterpurukan bangsa ini nyaris sempurna bahkan Al Quran sebagai kitab suci umat Islam nampak tercoreng nilai kesuciannya oleh tangan-tangan rakus para aparat pemerintahan yang tak lagi mengenal batas.

Setelah 14 tahun reformasi, politik menjadi berisik sebagai ”komedi omong”. Semua orang pintar ngomong (termasuk saya) namun sedikit sekali aksi yang dilakukan. Atau bahkan ada situasi yang lebih buruk. Ada banyak orang yang perkataannya berbeda dengan tindakanya. Tidak ada integritas lagi. Setelah 14 tahun reformas, belum ada tanda bahwa pelbagai perubahan itu kian mendekatkan bangsa ke jalur kemenangan. Berbagai perubahan yang terjadi tidak membawa transformasi dalam watak kekuasaan. Watak penyelenggara negara tetap bersifat narsistik; lebih melayani kepentingan sendiri dan kelompoknya ketimbang kepentingan bangsa secara keseluruhan. Rakyat juga lebih mementingkan dirinya sendiri. Ya lihat saja berapa uang yang dikeluarkan oleh kalangan yang menonton konser-konser kelompok musik uang “manggung” di negeri  ini. Jutaan rupiah dikeluarkan dengan mudahnya. Andai kita disuruh untuk mengeluarkan uang sebanyak itu untuk membantu sesama, saya yakin belum tentu kita mau melakukannya. Rakyat dan penguasa sama-sama bergerak menuju pudarnya kepedulian terhadap negeri ini.


Konsumerisme
Lain lagi dengan suasana puasa di negeri ini. Saya masih ingat betul bagaimana sepinya jalaan di Cianjur pada awal puasa. Tidak ada yang berjualan. Namun lihat hari belakangan ini. Walau puasa masih berlangsung 8 hari lagi, namun suasana di jalanan Cianjur sudah tidak lagi menggambarkan suasana bulan yang katanya bulan penuh dengan sikap menahan hawa nafsu. Bulan puasa merupakan momentum untuk melakukan penguragan budaya konsumtif yang kian menghilangkan kepedulian pada sesama. Ironisnya pada bulan yang dianggap suci ini banyak orang yang bernafsu belanja. Entah itu belanja makanan untuk berbuka atau berbelanja pakaian untuk lebaran. Saya pernah mengatakan bahwa “kalau bulan puasa jualan apa aja pasti laku”.

Budaya konsumtif sulit dihilangkan. Bahkan pertumbuhan ekonomi kita dewasa ini justru ditopang oleh tingginya daya kekonsumtifan masyarakat. Penelitian Litbang Kompas beberapa waktu lalu menyimpulkan, kelas menengah pascakrisis ekonomi 1998 dicirikan oleh perilaku konsumtif, kurang toleran terhadap perbedaan, dan tak memiliki kepedulian sosial. Data terbaru, Indonesia menempati indeks keyakinan konsumen tertinggi di Asia-Pasifik pada triwulan II tahun ini sebagaimana survei Nielsen.

Setiap menjelang Ramadhan, Bank Indonesia (BI) mencemaskan tingginya tuntutan konsumsi selama Bulan Puasa dan Lebaran akan memicu inflasi jika tak bisa dipenuhi. Pada saat yang sama, kenaikan harga bahan kebutuhan pokok (selalu) terbukti tak menyurutkan perilaku konsumtif masyarakat. Gejala ini merefleksikan satu persoalan sistemik dalam kemajuan ekonomi yang dipacu oleh mentalitas rakus untuk mengakumulasi kemakmuran. Bahkan diperkirakan bulan agustus ini inflasi akan naik 100%.

Toleransi Minoritas
Ada nuansa unik lainnya yang mewarnai bulan agustus ini. Untuk menunjukkan sikap peduli berbagai kalangan melakukan aksi buka puasa atau sahur utuk kalangan tidak mampu. Tidak ketinggalan berbagai komunitas agama non-muslim melakukan tindakan serupa. Klenteng-klenteng, gereja-gereja, dan komunitas lain bersusah-susah untuk menyatakan sikap toleransi dan kepedulian mereka pada mayoritas Islam yang sedang menjalankan ibadah puasa di negeri ini.

Saya sangat senang dengan situasi yang berupaya membangun gambaran toleransi dan kepedulian sosial ini. Namun saya juga gelisah, karena selama ini sikap toleransi hampir selalu diawali dari pihak minoritas. Jika si minor melakukan upaya membagun toleransi hal itu bisa disebabkan oleh kepentingan kelompoknya yang memerlukan ruang pengakuan keberadaannya. Lain halnya jika hal itu dilakukan oleh kelompok mayoritas. Walaupun sudah ada beberapa kelompok yang terus memperjuangkan toleransi namun belum maksimal. Andai seluruh umat dari kalangan mayoritas menunjukkan sikap toleransi dan kepedulian sosial, bukan hanya menyejukkan hati kelompok minor tapi juga pastinya berdampak lebih dasyat pada negeri ini. Tak ada lagi tekanan yang dialami kelompok minoritas dalam kehidupannya di negeri ini.

Bersyukur atas segala keadaan
Walaupun ada begitu banyak carut-marut kehidupan berbangsa di negeri ini, saya mau mengajak kita semua sebagai bagian dari negeri ini untuk terus bersyukur untuk segala hal. Saya ingat apa yang difirmankan dalam Kolose 3:15 Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.  

Firman Tuhan di atas mengajak umat Tuhan untuk bersatu dan bersyukur dalam segala keadaan. Saya mengajak kita untuk tidak hanya membangun persatuan dengan sesama orang kristen namun membangun juga persatuan dengan seluruh umat di negeri ini. Persatuan ini yang menjadikan kita memiliki kekuatan untuk menghidupi kepedulian pada negeri ini. Hal yang berikutnya adalah bersyukur. Bersyukur untuk segala keterpurukan kita sehingga kita bisa instrospeksi diri, bersyukur untuk lambatnya gerak perubahan menuju ke arah yang lebih baik yang membuat kita terpanggil untuk membangun negeri ini.  Bersyukur untuk segala hal. Dengan bersyukur kita akan mudah untuk menemukan suara Tuhan dalam kegagalan yang kita alami. Lain halnya dengan sikap tidak bersyukur. Sikap ini akan mudah melahirkan skap saling menyalahkan, sikap tidak mau peduli, sikap memberontak, dll.

Dalam rangka kerinduan untuk bersatu sebagai bagian bangsa ini dan juga bersyukur untuk kemerdekaan yang Tuhan sudah berikan pada negeri ini 67 tahun lalu, saya mengundang bapak ibu untuk datang dalam acara syukuran Kemerdekaan RI ke-67. Ada banyak acara yang kita akan lakukan di dalamnya. Ada bincang-bincang dalam kelompok bersama komunitas agama lain, ada kuis-kuis berhadiah, serta ditutup dengan makan bersama (buka puasa bagi umat Islam). Semoga dengan acara ini kita bisa menemukan suara Tuhan bagi negeri ini.

Melakukan apa yang benar dan baik

11.53 Posted In , , 0 Comments »


Bacaan Hari ini :
Roma 7:15 "Sebab apa yang aku perbuat aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat."
__________________________________________

Saya kagum dengan keberanian Paulus yang dengan jujur mengakui kesalahannya dalam Roma 7.
Paulus, seorang percaya yang telah matang dalam iman dan salah satu orang Kristen terhebat yang pernah ada, berbagi perjuangannya kepada sesama orang percaya.

Saya sangat senang dia melakukannya!
Ia berbagi peperangan emosional yang sedang terjadi dalam diri saya, Anda, dan semua orang Kristen, saat kita mencoba untuk melakukan hal benar namun mengandalkan diri sendiri.

Paulus menyoroti enam tanda emosional.
Hari ini saya akan menjelaskan tanda pertama yang akan Anda alami ketika peperangan terjadi antara sifat lama dan sifat baru Anda.

Anda akan mengalami kebingungan.
Paulus berkata, "Saya sama sekali tidak dapat memahami diri saya sendiri karena sebenarnya saya ingin melakukan hal baik, tetapi saya tidak dapat..." (Roma 7:15 Firman Allah yang Hidup).
Kata"hati nurani" berarti "dengan pengetahuan".
Jadi jika hati nurani Anda mengganggu pikiran Anda, berarti Anda melakukan sesuatu yang dengan pengetahuan Anda, Anda tahu jika itu salah.
Hasil dari hati nurani yang terganggu adalah rasa bersalah dan malu.
Tuhan tidak ingin Anda membawanya terus-menerus.

Hasilnya adalah napsu dan kecanduan.
Jika Anda tidak belajar melawan peperangan dalam diri Anda, hal itu akan menyebabkan nafsu dan kecanduan.
Paulus berkata, "Tetapi saya tidak berbuat apa-apa, sebab yang melanggar hukum bukan saya, melainkan dosa dalam diri saya, yang jauh lebih kuat daripada saya..." (Roma 7:17 Firman Allah yang Hidup).
Kita memiliki sifat alami manusia dengan daya tahan untuk melakukan hal yang benar, kita ingin melakukan hal yang mudah dan menyenangkan, tetapi kita pada dasarnya tidak ingin melakukan apa yang benar dan baik.
Dosa itu menyenangkan, dan dengan mudah dapat menjadi kebiasaan.

Apakah tanda-tanda tadi ada yang terdengar akrab dalam hidup Anda?
Bicaralah pada Tuhan tentang kekhawatiran Anda, tetapi kemudian dengarkanlah bimbingan-Nya tentang apa yang harus Anda lakukan.
Besok saya akan menunjukkan tiga tanda-tanda lagi.
__________________________________________

Bacaan Alkitab Setahun :
Ayub 22-24; Kisah Para Rasul 11
__________________________________________

Anda akan mengalami kebingungan jika Anda tidak bisa mengendalikan daya emosional Anda dan itu akan menjadi kebiasaan buruk dalam hidup Anda.


-M

PELAYANAN 2013-14

MENJADI MITRA ALLAH YANG PEDULI DAN BERTUMBUH

KEBAKTIAN UMUM 1



MINGGU JAM 08.00 DI GKI CIANJUR

KEBAKTIAN UMUM 2



MINGGU JAM 17.00 DI GKI CIANJUR

DOA PAGI



JUMAT JAM 05.30 DI GKI CIANJUR



PERSEKUTUAN PEMUDA



SABTU JAM 16.00 DI GKI CIANJUR

BERLANGGANAN ARTIKEL

Enter your email address:

KUMPULKAN BERAS BAGI SESAMA
satu orang, satu gelas
2010-2011

PEMBERDAYAAN EKONOMI MASYARAKAT

TEMPO DOELOE

KOMISI ANAK

KOMISI ANAK

GURU SEKOLAH MINGGU

GURU SEKOLAH MINGGU

KOMISI PEMUDA REMAJA

KOMISI PEMUDA REMAJA

KOMISI DEWASA

KOMISI DEWASA

KOMISI ADIK ASUH

KOMISI ADIK ASUH

KOMISI MUSIK & MULTIMEDIA

KOMISI MUSIK & MULTIMEDIA

JUMLAH PENGUNJUNG

counter

DAFTAR PENGUNJUNG